Lion Air JT610: Kecelakaan terparah kedua Indonesia di tengah membaiknya rekor keselamatan
Insiden ini "sangat mengejutkan" karena catatan kecelakaan pesawat di
Indonesia "menurun drastis", kata Ketua Komite Nasional Keselamatan
Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono.
Pesawat jenis Boeing 737
Max 8 ini jatuh di perairan seputar Karawang, Jawa Barat, tak lama
setelah lepas landas dari Jakarta menuju Pangkal Pinang.
"(Kecelakaan)
ini sangat mengagetkan saya, semua sudah membaik, kecelakaan sudah
berkurang sangat drastis, kenapa ini muncul," kata Soerjanto kepada BBC
News Indonesia.
Ia mengatakan kecelakaan Lion Air ini adalah yang terparah kedua
sejak Garuda Indonesia Airbus A300 di Medan pada 1997 dengan 234
penumpang dan awak meninggal.
Hal senada diutarakan Greg Waldron dari Flightglobal, perusahaan yang mendata insiden dalam penerbangan-penerbangan dunia.
Menurutnya,
kecelakaan terparah dalam sejarah penerbangan Indonesia dialami
maskapai Garuda Indonesia yang jatuh di Medan sebelum mendarat pada 26
September 1997.
Kecelakaan terparah ketiga di Indonesia, kata
Waldron, adalah pada 28 Desember 2014 ketika AirAsia Airbus A320 jatuh
di Selat Karimata dalam penerbangan dari Surabaya ke Singapura, dengan
korban meninggal 162 orang.
Khusus soal jatuhnya pesawat Lion Air JT610, Waldron mengatakan "inilah kecelakaan besar pertama Boeing 737 Max."
Lion Air memiliki 218 pesawat Boeing jenis baru ini dan secara keseluruhan memesan 238 unit.
Menurut
Flightglobal, sebelum kecelakaan ini, Lion mengalami 11 kecelakaan
besar, dan sejak 2002 maskapai ini telah kehilangan lima pesawat dalam
lima kecelakaan.
Pada tanggal 13 April 2013, Lion Air 737-800 jatuh di perairan Bali.
Pesawat hancur namun hanya empat penumpang yang mengalami luka-luka.
Kecelakaan
Lion Air sebelumnya terjadi pada 30 November 2004, saat pesawat buatan
McDonnel Douglas MD-80 tergelincir di Solo. Dari 156 orang di pesawat,
23 penumpang dan dua awak meninggal.
Pada bulan Juni lalu, Lion
Air termasuk tiga penerbangan Indonesia yang tingkat keselamatannya naik
menjadi tujuh bintang dari AirlineRatings.com.
Seorang pengamat
keselamatan penerbangan David Gleave mengatakan kepada media di Inggris,
Telegraph Travel, bahwa rekor keselamatan Lion Air masih buruk.
"Saya tidak akan terbang dengan Lion Air...Penerbangan ini berkembang pesat namun catatan keselamatan buruk," kata Gleave.
Selain
kecelakaan, penerbangan ini juga mencatat banyak keterlambatan. Dan
pada 2012, penerbangan ini memecat dua pilot karena tertangkap
menggunakan obat bius.
Di tengah catatan perbaikan keselamatan
yang dilakukan pemerintah Indonesia, Uni Eropa mencabut larangan
sejumlah penerbangan Indonesia pada Juni lalu.
Namun David Gleave menyatakan keraguan terkait kemajuan dalam langkah keselamatan ini.
"Uni
Eropa mencabut larangan penerbangan Indonesia namun itu dilakukan
berdasarkan penilaian badan pengawasan (Indonesia), dan bukan
penerbangannya sendiri," kata Gleave.
Komentar
Posting Komentar